Posisi Perempuan di Perkebunan Kelapa Sawit

Source: Forest News

Saat berbicara mengenai perkebunan kelapa sawit, tidak hanya pada deforestasi saja yang perlu perhatian. Namun, kita juga perlu mengetahui apa yang terjadi pada orang yang bekerja di dalamnya, termasuk isu posisi perempuan di perkebunan kelapa sawit.

Penelitian terbaru dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) memaparkan dampak sosial perkebunan sawit bagi perempuan. Riset ini merupakan inisiatif CIFOR untuk memahamu dimensi gender. Penelitian dilakukan di Meliau, Kalimantan Barat.

Riset ini mengungkap peran sentral perempuan dalam perkebunan kelapa sawit sebagai masyarakat terdampak akibat ekspansi sawit, dan sebagai pekerja formal atau informal, sekaligus petani dan produsen.

Mengutip perkataan Tania Li, ahli antropologi dari Universitas Toronto, di sebagian besar Indonesia, tingkat kemitraan suami-istri sangat tinggi. Mereka bekerja sama mencukupi kebutuhan rumah tangga. Jika Anda memberi akses cukup bagi mereka untuk mengelola tanaman, mereka akan melakukannya dengan baik.

Ketika pemerintah membangun perusahaan kelapa sawit pertama di Meliau pada awal 1980, banyak pasangan suami istri dari Pulau Jawa yang datang ke Kalimantan untuk menjadi buruh. Di perkebunan kelapa sawit, mereka ditawarkan janji pekerjaan tetap dengan gaji cukup, rumah gratis, makanan, dan jaminan kesehatan.

“Seiring waktu, ketika lahan menyempit dan bentang alam menjadi sesak, para pekerja makin putus asa,” kata Li. “Ini bukan soal perkebunan liar atau perusahaan jahat--pembangunan perkebunan secara intrinsik akan menghasilkan masalah ini, karena sebaik-baiknya perusahaan, profit merupakan tujuan utama, dan pengurangan gaji buruh menjadi satu pilihan.”

Kondisi ini memberikah pengaruh terhadap dimensi gender dan isu etnis. Perusahaan hanya mempekerjakan lelaki migran dan masyarakat Dayak lokal sebagai pemetik buah sawit. Seangkan perempuan Melayu--yang tidak memiliki lahan--hanya bertugas menjalankan tugas perawatan pohon sawit.

“Perempuan yang tak mempunyai kebun merupakan pihak paling dirugikan dalam sistem ini,” kata Li.

Magdalena Pandan, 35 tahun, adalah satu contoh dampak sosial dari kondisi ini. Sebelum matahari terbit di ufuk timur, ia sudah mendatangi kebun karet miliknya, memasak untuk keluarga, memandikan dan menyiapkan anak-anak ke sekolah. Saat fajar tiba, ia menunggu dijemput perusahaan menuju perkebunan kelapa sawit di mana ia akan menabur hingga 300 kg pupuk.

Ibu tiga anak ini mengaku tidak akan mampu melakukan kerja seperti ini selamanya. “Tapi bagaimana lagi kalau tidak ada kerjaan lain?” katanya. “Paling kita kembali lagi ke perkebunan kelapa sawit.”

Adanya ketidaksetaraan gender di perkebunan sawit lestari sangat jarang. Padahal, para peneliti telah merekomendasikan untuk meningkatkan hak dan memperluas peluang perempuan jika ingin sawit benar-benar lestari.

Diharapkan kondisi tersebut menjadi perhatian lebih bagi pemerintah ke depannya -- khususnya dalam melahirkan kebijakan yang berdimensi perspektif gender --sehingga hasil pembangunan tidak hanya memberikan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga dari aspek sosial yang mampu memberikan manfaat bagi petani perempuan maupun lelaki.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBX5A5602166269A

Label

Recent Posts